Gaya Hidup Mahasiswa

Gaya hidup atau lifestyle itu dinamis, ia akan berkembang dan berubah-ubah seiring dengan peradaban manusia. Menurut Assael, Lifestyle is  a mode of living that is identified by how people spend their time (activities), what they consider important in their environment (interest) and what they think of themselves and the world around them (opinions). Manusia sebagai ‘creator of lifestyle’ akan terus menemukan pola baru untuk beradaptasi terhadap kebutuhan dan lingkungan yang ia hadapi. Pembahasan mengenai gaya hidup tidak ada matinya. Gaya hidup akan selalu menjadi ‘sahabat sejati’ manusia karena akan selalu menjadi bagian dalam keseharian. Dimensi dari keseharian manusia yang melekat dalam pola gaya hidup meliputi health, fashion, food, transport, mobile phone, living dan vocation. Mengikuti pola hidup menuntun kita untuk mencoba pengalaman baru yang memberikan kita sensasi sehingga kita akan mengikutinya secara berulang-ulang hingga menjadi sebuah kebiasaan. Gaya hidup telah merasuki semua golongan, tak terkecuali mahasiswa. Pembahasan gaya hidup mahasiswa sangat menarik untuk diangkat. Kita dapat melihat dari perspektif pendidikan, sosial, ekonomi dan agama. Kita tidak dapat menolak perubahan dan perkembangan saat ini, bagaimanapun gaya hidup sudah menjadi ikon dari modernitas dan merupakan pilihan bagi kita untuk dapat menyeleksi dan memilih apa yang menjadi kebutuhan kita terutama bagi mahasiswa agar tidak terjerumus dalam arus zaman.

Aspek Pendidikan

Gaya Hidup Mahasiswa dan Pendidikan (Artikel)

Oleh Putra Kurnia Halim

Pendidikan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan. Pendidikan dianggap penting karena mampu membawa seseorang ketangga kesuksesan, dapat merubah derajat manusia sehingga manusia dapat dipandang dengan hormat. Pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan teratur dan terencana untuk bisa mengembangkan diri, ide, pikiran sehingga mudah diterima di lingkungan masyarakat.

Seseorang berpendidikan tinggi ada kemungkinan mendapatkan pekerjaan yang baik dan secara otomatis dengan gaji yang dia peroleh, kehidupan ekonomi akan mapan. Sehinnga bisa mengikuti gaya hidup yang mewah. Bandingkan jika seseorang hanya lulusan SD kemungkinan hanya bisa jadi OB ataupun pekerjaan lainnya itulah begitu pentingnya pendidikan.

Gaya hidup meruipakan istilah yang sedang populer saat ini dalam masyarakat. Gaya hidup masyarakat sekarang sudah mengalami perubahan dan perkembangan seiring berkembangnya zaman. Dahulu orang tidak terlalu mementingkan penampilan dan gaya hidup. Mereka lebih mementingkan kebutuhan pokok daripada penampilan, tetapi sekarang berbeda keadaannya.

Membahas mengenai gaya hidup dikalangan mahasiswa saat ini sangat menarik. Faktor naiknya taraf hidup (peningkatan ekonomi) yang ada pada mahasiswa membuat mereka memiliki pergaulan yang luas, pengetahuan informasi yang lebih modern, serta membuat gaya hidup mahasiswa berubah dimulai dari pakaian, bergaul dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat mempengaruhi kehidupannya.

Kehidupan mahasiswa zaman sekarang banyak yang bertentangan dari dalam dirinya, mulai dari gaya hidup yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya, juga bertolak belakang dengan kondisi ekonomi keluarganya. Tetapi mereka malah memaksakan dirinya untuk sebanding dengan orang-orang disekitarnya yang mungkin mapan dalam ekonomi.

Tanpa mereka sadari, mereka masuk dalam pergaulan kota yang sangat mengedepankan penampilan, mereka yang datang dari kampung jauh dari pengawasan keluarga membuat mereka bebas mengaplikasikan dirinya untuk masuk kelingkungan yang seperti apa tanpa berpikir panjang mengenai dampak yang akan terjadi selanjutnya. Kebanyakan orang menganggap pendidikan sebagai gaya hidup bahkan mereka tidak mau ketinggalan dari temannya.

Gambar 2. Sumber : GettyImages

Kampus yang seharusnya dijadikan tempat menuntut ilmu malah dijadikan ajang pamer dan kekayaan saja. Sehingga banyak ditemukan mahasiswa yang konsumtif, kehidupan dikampus semakin tidak jelas. Mahasiswa yang ekonominya mapan cenderung mudah terpangaruh dengan gaya hidup yang konsumtif. Mereka akan dianggap mengikuti zaman dengan penampilan yang kekinian dan merk pakaian ternama. Ada beberapa tren gaya hidup yaitu pakaian, musik, makanan, minuman, penampilan pribadi, olahraga, kendaraan dan lain-lain.

 

Seharusnya gaya hidup yang tinggi harus sebanding dengan prestasi di kampus, untuk menunjang masa depan yang cerah dan kebahagian orang tua. Bukan masuk kedalam lingkungan yang tidak berguna bagi dirinya  atau hal yang tidak ada manfaat untuk diri.

Aspek Sosial

Rasionalitas dan Gengsi Sosial (Artikel)

Oleh Hely Sumarto

Gambar 3. Sumber : GettyImages

Gengsi merupakan sifat takut akan jatuhnya harga diri. Orang seperti ini selalu mementingkan dan membanggakan kehormatan diri (prestise). Mereka akan update info terkini tentang gaya hidup yang modern agar tidak ketinggalan dan kekurangannya. Dimana cara hidup yang diambil mahasiswa berubah mulai dari berpakaian, bersosialisasi, dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat mempengaruhi tingkat kehidupan yang dianggap modern, gaul, dan keren. Sehingga rasa percaya diri muncul disaat akan berinteraksi dengan lingkungan. Hal ini terjadi dikalangan mahasiswa, yang menempatkan lifestyle di urutan pertama dibandingkan hal positif lainnya.

Dengan menempatkan lifestyle di urutan pertama, dikhawatirkan akan merusak kepribadian seorang mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa, yang seharusnya mampu bersikap kritis dalam menyikapi berbagai hal. Sifat gengsi yang ditonjolkan akan menghambat perkembangan mental positif dalam mengembangkan bakat maupun keahlian yang dimiliki. Karenanya, perlu untuk menghapuskan rasa gengsi yang ada di dalam diri.

Padahal, jika kita lihat kebanyakan mahasiswa berasal dari desa, yang menjunjung tinggi nilai, kekeluargaan, adat istiadat dan budaya, tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak dari desa sudah tertanam jiwa bermasyarakat yang sehat, memiliki rasa sosial yang tinggi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat tersebut. Namun, pada saat melanjutkan perguruan tinggi yang ada di kota metropolitan nilai-nilai itu seakan hilang.

Hal ini disebabkan mahasiswa tidak mampu menyaring dan menyeleksi lingkunganya dan juga kurangnya kepercayaan diri serta pengetahuan menyebabkan mereka lebih memilih meniru ketimbang mengembangkan potensi mereka dan menjadi diri sendiri. Akibatnya pengaruh buruk yang lebih banyak berpengaruh. Hal ini mengancam mental bangsa, sebab mahasiswa adalah generasi muda yang terdidik dan diharapkan mampu  menjadi penerus yang lebih baik.

Salah satu hal yang paling dekat dengan gengsi adalah gaya hidup konsumtif. Webber dalam Ensiklopedi Ekonomi, Bisnis, dan Manajemen menyatakan bahwa konsumtif merupakan penggunaan barang atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari yang bisa berhubungan dengan masalah selera, identitas, dan gaya hidup.

Jadi, konsumsif berkaitan dengan jumlah pengeluaran untuk membeli berbagai jenis barang dan jasa dalam tingkat pendapatan yang tinggi. Namun, mahasiswa dari kalangan ekonomi kelas bawah yang merupakan korban dari gengsi seakan tidak peduli akan hal itu. Demi menutupi kekurangan karena rasa gengsi ia tidak berpikir panjang dan lebih mementingkan egonya untuk mode yang kekinian. Sehingga tanpa sadar ia ingkar terhadap amanah yang diberikan orang tuanya yang mana seharusnya dana yang dikirim untuk memenuhi kebutuhan malah digunakan untuk hal yang tidak ada berguna dan bahkan meminta lagi dengan melancarkan berbagai alasan untuk menyakinkan orang tuanya, ironis.

Gengsi juga menghambat proses interaksi sosial mahasiswa dengan lingkunga. Penting bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan lingkungan karena akan menumbuhkan rasa sosial dan peka terhadap kejadian maupun peristiwa, sehingga refleks untuk ikut berpartisipasi muncul. Seperti menurut Broom dan Selznic, bahwa interaksi sosial adalah proses bertindak yang dilandasi oleh kesadaran adanya orang lain dan proses menyesuaikan respon (tindak balasan) sesuai dengan tindakan orang lain. Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack  interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antarindividu, antara individu dengan kelompok maupun antara kelompok dengan kelompok lainnya.

Hal ini meliputi seluruh kelompok masyarakat, khusunya kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang merupakan golongan muda yang seharusnya mengisi waktunya dengan menambah pengetahuan, keteampilan, dan keahlian, serta mengisi kegiatan mereka dengan kegiatan positif sehingga akan memiliki orientasi ke masa depan sebagai manusia yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa. Akan tetapi kehidupan kampus telah membentuk gaya hidup khas dikalangan mahasiswa dan terjadi akulturasi sosial budaya tinggi dalam mempertahankan prestise dari masing-masing individu.

Sebelum terjadi globalisasi dan modernisasi masih banyak mahasiswa yang berorientasi ke masa depan dan jarang melakukan hal-hal yang aneh. Berbeda dengan sekarang, mahasiswa berubah dalam hal berpakaian, pergaulan, pemakaian uang dan kebutuhan lain yang menjadi berlebihan, tidak sesuai kebutuhan. Modernisasi yang dilakukan oleh mahasiswa masa kini cenderung ke arah westernisasi. Terjadi proses peniruan budaya barat yang menurut mahasiswa lebih ‘oke’ dibanding budaya sendiri. Padahal yang diharapkan oleh modernisasi adalah rasionalitas dan cara berfikir yang tangkas.

Pahitnya Kebohongan (Feature)

Oleh Aldi Saputra

Gaya hidup baginya? Teringat dalam pikiran ini, ya tidak pernah sesuai dengan semua yang apa ada dikeluarganya. Baju yang bagus semua itu hanya dusta. Dilihat dari sosial keluarga tidak begitu mengizinkan untuk semua ini. Begitu pahit untuk memulai sebuah kebohongan. Kehidupan sosial yang sosial yang sulit.

Tenang dan tentram dari sebuah kampung yang begitu nyaman untuk menetap. Angin sepoi-sepoi selalu membuat dedaunan di dahan kayu menari dengan indahnya. Kesederhanaan sebuah keluarga terlihat tidak lagi menunjukkan keharmonisan yang dahulu ketika seorang anak laki–laki sudah beranjak dewasa dan pergi ke kota untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kehidupan sosial yang menjadi titik penting dari semua ini.

R itulah nama samaran seorang anak yang tak mengerti dengan kehidupan asal keluarganya yang begitu rumit dan penuh dengan kekurangan. Dia tidak memikirkan keluarga yang sudah bercucr keringat dan banting tulang pagi hingga petang untuk membuat dirinya agar menjadi seseorang yang sukses di kemudian hari. Akan tetapi semua itu tidaklah sesuai dengan harapan orang tua. R telah terjerumus dalam kehidupan modern dengan hedonisme tinggi yang telah mempengaruhi diri dan gaya hidupnya.

Pakaian yang dipakai selalu baru, model zaman sekarang. Orang tua di kampung, rumah di kampung tidak pernah setuju dengan apa yang sekarang dikenakan oleh R yang tidak mengerti bahwa begitu sulitnya kehidupan di desa. Jangankan untuk berbelanja kepasar, makan pun hanya secukupnya.

Uang setiap bulan dikirim untuk kebutuhan kuliahnya, semua itu habis untuk anak kebanggannya agar bisa menjadi seseorang yang sukses nantinya. “Biarlah kami tak makan nak,yang penting kau disana belajar agar menjadi seseorang yang sukses nantinya” kata seorang ibu kepada anaknya dan itulah  orang tua. Apa yang terjadi? Uang yang susah payah dicari dihabiskan untuk berpoya – poya membeli itu membeli ini, sungguh anak yang tak tau betapa susahnya orang tua untuk mencari uang untuknya.

Sungguh malang nasib orang tua yang selalu bangga dengan anak ditinggi-tinggikan nama anaknya. Mereka tidak mengetahui, anaknya malah tidak peduli dengan semua itu, serasa semua ini tak akan pernah berhenti untuk kedepannya. Kebohongan yang selalu ada dalam kehidupan sosial mereka.

Angin yang sejuk, tertawa yang begitu riang selalu terpancar dari kedua orang tua tentang anaknya yang tak lama lagi akan menyelasaikan pendidikannya. R selalu mengatakan “Iya bu, tidak lama lagi R selesai kuliahnya”.

Kehidupan sosial memang pahit. Ketidak wajar yang terjadi antara R dengan orang tuanya semua menjadi sia – sia. Itulah yang terjadi tidak sesuainya keinginan orang tua yang selalu menginginkan anaknya menjadi orang yang sukses berubah dikarenakan anak yang tidak tahu betapa sulitnya kehidupan yang dialami orang tua. Ironisnya uang yang selalu digunakan agar anak bisa belajar dengan baik malah digunakan untuk sesuatu yang hanya merugikan dirinya sendiri.

Aspek Ekonomi

Kita Perlu Cermat

Seorang mahasiswa bersedia menjadi narasumber dalam pembahasan mengenai gaya hidup mahasiswa dilihat dari aspek ekonomi. Andry Faisal (Reporter) melakukan wawancara singkat kepada Rizki Rizaldi (Narasumber/Mahasiswa) dalam suatu kesempatan. Hal dasar yang ingin didapatkan adalah bagaimana pendapat sebagai mahasiswa menilai gaya hidup saat ini dalam aspek mengenai pemenuhan kebutuhan (ekonomi) ?. Berikut hasilnya.

Reporter (R) : Bagaimana cara anda ketika dihadapi masalah keuangan yang membelit?

Narasumber (N) : Ketika dihadapi masalah keuangan yang membelit kita pelu cermat dalam hal pengeluaran. Apalagi yang tidak penting kita butuhkan terpaksa untuk dibeli. Karena itu, sebagai mahasiswa harus menahan godaan ketika membeli sesuatu. Terutama dalam hal bergaya atau berpenampilan yang menarik dikalangan mahasiswa yang terus eksis. Jadi, ketika keuangan yang membelit kita harus berfikir dengan kondisi keuangan yang sesuai kebutuhan.

R : Berapa daya konsumtif mahasiswa?

N : Daya konsumtif mahasiswa sangat berbeda – beda apa yang dibutuhkan. Tergantung apa saja yang kita inginkan. Mulai dari segi berpakaian, pangan sampai kebutuhan gadget. Sebenarnya segi berpakaian dan pangan sudah cukup menjadi kebutuhan utama dalam sehari – hari. Namun dengan adanya gadget yang menjadi kebutuhan dikalangan mahsiswa pada saat ini. Dengan memiliki gadget harus membutuhkan biaya operasional yaitu pulsa. Pulsa yang digunakan tersebut untuk berbagai keperluan mulai dari telepon, sms dan akses internet.

R : Apa saja keperluan yang anda butuhkan?

N : Kebutuhan yang diperlukan bagi mahasiwa begitu banyak. Bagian yang terpenting yaitu tempat hunian (kost), kendaraan sampai gadget. Dengan adanya kebutuhan itu sangat menunjang aktivitas sehari – hari. Namun kita tidak boleh menyia – nyiakan kebutuhan tersebut, karena kebutuhan itu dibayar mahal.

R : Apakah sebagai mahasiwa, anda perlu mengetahui tentang ekonomi?

N : Sebagai mahasiswa harus pelu megetahui tentang ekonomi. Ekonomi sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Apalagi dimasa kini mahasiswa sebagai generasi muda perlu menciptakan ekonomi kreatif. Agar manjadi generasi yang diandalkan bagi masyarakat yang banyak.

Aspek Agama

Warna-Warni Kehidupan Mahasiswa (Feature)

Oleh Fathoni

Ba’da isya, pukul 19.30 Nurhariadi jalan bersama temannnya ke sebuah mini market. Ia pakai celana jeans dan baju kaos berwarna abu-abu, saat itu ia keluar dari kosnya untuk membeli peralatan sehari-hari.

Adi sapaan akrabnya, bercerita bagaimana prilaku dan kelakuan dia sewaktu tinggal di Pesantren Darul Nahdo, Bangkinang, ketika itu adi sering membuat jadwal kegiatan dia setiap harinya tepatnya pada malam hari sebelum ia tidur.

“Semasa di pasantren saya sering menulis apa saja kegiatan yang akan saya lakukan,” katanya.

Ketika siang hari setelah proses belajar mengajar, ia dan teman-temannya pergi mengaji di masjid yang berda diperkarangan pesantren, setelah itu ia pulang ke asrama untuk mengerjakan pekerjaan yang telah menunggunya. “ya namanya saja anak pesantren, tak mungkin lah buat yang aneh-aneh,” ucapnya.

Selepas dari kegiatan siang hari, pada malamnya pengajian dan mendengarkan ceramah telah menunggu dia, karena tidak mau mendapatkan hukuman ia harus mengikutinya. “selama di pesantren inilah yang saya lakukan,” katanya.

Namun semua kagiatan yang telah dilakukan Adi di Pesantren telah berubah drastis semenjak ia telah duduk dibangku perkuliahan tepatnya di Universita Islam Negri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, disini ia mengeluh tidak menemukan satu pun teman ia semasa di pesantren.

“Awal kuliah disini saya tidak menemukan teman saya yang di pesantren duu,” kesalnya.

Inilah yang membuat dia memutuskan untuk tinggal satu kos bersama temannya satu kelas di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK). Dia mengaku ketika itu belum mengenal sifat dan karakter temannya dengan baik, demi adany teman dia rela mengmbil risiko apapun yang terjadi nantinnya.

“Mau tidak mau saya akan lakukan, karena tidak ada pilihan lain lagi,” ucapnya.

Selama sebulan ia dan temannya satu kos hanya pergi kuliah dan ke kantin dilanjutkan ke kos, tak ada satupun dia mengikuti satu pun organisasi yang ada di kampus. “Malas aja untuk ikut oraganisasi, mending langsung pulang ke kos aja,”. Ucapnya.

Pada suatu hari temannya yang bernama Rival, mengajaknya pergi ke tempat bermain billiard pada jam 23.00 WIB bersama temannya yang lain, tidak mau mengecewakan temannya ia pun mengiyakan ajakan temannya. “ya namanya saja teman, nanti dia tak mau lagi bicara sma saya,” ujarnya.

Pada malam itu ia pulang ke kos pada pukul 05.00 WIB, hal ini ia lakukan selama 3 kali semingngu bersama temannya, ini ia lakukan untuk lebh dekat dengan temannya. “ya saya inggin ikut aja,” terangnya.

Adi mengatakan banyak hal yang berubah kepadanya, tetapi dia tidak mau menyesali apa yang telah terjadi pada dirinya, ia hanya bisa bersukur untuk kedepannya lebih bisa lebihh baik. “Semoga ini menjadi pelajaran saj buat saya,” tutupnya.

Afri kawan satu kelas Adi, membenarkan apa yang dikatakan adi, ia enyebut adi telah banyak berubah dan adi yang latar belakangnya anak pesantren bisa berubah. “memang betul, ya semoga aja adi kedepannya sadar,” tuturnya.

Islam Sebagai Cerminan Hidup (Artikel)

Oleh Erpan

 

Belakangan ini melihat gaya hidup mahasiswa banyak di luar batas kewajaran. Baik ditinjau dari segi akhlak, etika bergaul maupun cara berpakaiannya sudah sangat banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya barat, tanpa mempertimbangkan dan melakukan filter yang matang terhadap perkembangan budaya. Sehingga sebagian besar mahasiswa menelan secara mentah budaya baru yang di anggap ngetren ataupun gaul barang kali istilah anak remaja sekarang.

Perkembangan zaman modern menuju postmodern sekarang ini  telah banyak meracuni akhlak dan etika mahasiswa. Pesatnya  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah diiringi juga dengan tingkah para mahasiswa yang banyak merugikan orang lain, seperti misalnya melalukan tindakan anarkis melalui demonstrasi terhadap hal yang  sebenarnya bisa diselesaikan dengan pembicaraan secara hormat. Terlebih lagi jika akan berbicara mengenai pergaulan dan cara berpakaiannya, terlihat dari kaum pria dan wanita sekarang ini seolah-olah tidak ada dosa dan larangan yang menghalangi pergaulan mereka sehingga pergaulan bebas merajalela dan cara berpakaian yang tidak mencerminkan islami sudah menjadi hal yang lumrah.

Pengaruh zaman dan cara berpikir yang tidak sehat telah merusak mahasiswa masa kini, tidak sedikit juga ditemukan penampilan amburadul yang sudah di luar ketentuan sebagai mahasiswa di praktikkan saat ini. Hal itu terlihat jelas dari model pakaian yang menjadi pilihannya adalah pakaian yang sober, berambut gondrong bagi kaum pria yang pada hakikat sebenarnya hanya menimbulkan kesan yang tidak baik dari lingkungan sekitar. Beberapa fenomena seperti itu tidak terlepas dari pengaruh zaman.

Para mahasiswa dalam memilih busana cenderung mengikuti trend yang sedang berlaku di zamannya.  Kebanyakan dari mereka berpikir jika hidup tak mengikuti mode pakaian trendy, mereka akan dianggap katrok, kampungan, kurang gaul, ataupun tidak fashionable. Anggapan-anggapan serta cemoohan seperti itulah yang menjadi momok bagi mahasiswa yang sedang mencari jati diri. Mereka ingin bisa diterima oleh kelompok lain dan dapat diakui keberadaannya sehingga mereka cenderung untuk mengikuti arus zaman.

Kehidupan malam bagi mahasiswa bukan hal yang asing lagi, terutama bagi yang hidup terpisah dari keluarga/ngekos. Mereka akan menghabiskan waktu malam hari di tempat-tempat nongkrong bersama teman. Seseorang akan dianggap sebagai orang yang gaul jika mereka sering hangout. Sedangkan bagi mereka yang jarang dianggap sebagai mahasiswa cupu dan tidak gaul. Tempat nongkrongan dianggap sebagai cerminan diri mereka.

Era modern saat ini lebih mengapresiasi gaya hidup untuk kepuasan tersendiri. Gaya hidup mahasiswa yang lebih mendominasi ke westernisasi dianggap dapat menimbulkan ketidakpatutan. Karenanya mahasiswa sekarang harus pandai-pandai untuk menyeleksi dan memilah apa yang lakukan dan perbuat agar tidak menjadi budaknya zaman.

Terdapat dua tujuan hidup dalam mendasari gaya hidup manusia. Kedua hal itu adalah pertama, kebaikan (al-khair); kedua, kebahagiaan (al-sa`adah). Tingkat dan kualitas pemahaman tentang keduanya mengakibatkan munculnya gaya hidup manusia.

Ada orang yang memandang materi sebagai pusat kebahagiaan. Orang seperti ini memandang bahwa materi sebagai satu-satunya tujuan dalam menjalani hidup ini. Segalanya diukur dari materi. Materi akan dijadikan sebagai bekal untuk menghadapi maut dan menghadapkan Allah SWT. Yang terjadi kemudian adalah kegersangan dirinya. Diri akan terasa hampa dalam hidup.

Islam sebagai agama harus dijadikan sebagai rujukan membangun gaya hidup. Syariat Islam membangun gaya hidup berdasarkan Tauhid. Berbeda dengan gaya hidup Islami, gaya hidup jahili didasarkan pada syirik. Gaya hidup seperti ini sangat rapuh dari gejolak perubahan dunia. Gaya hidup jahili ini akan membuat setiap orang selalu menjadikan orientasi hidupnya bertumpu pada pencarian dalam memuaskan diri. Karena itu, orang seperti ini selalu goyang pikiran dan membuat dirinya diperbudak oleh gaya hidup itu sendiri. Berdasarkan pada orientasi gaya hidup, setiap muslim wajib memilih gaya hidup Islami dalam menjalani kehidupan di dunia.

Cara seperti inilah yang dijelaskan di dalam al-Quran, surat Yusuf ayat 108. Berikut terjemahannya :

“Katakanlah, inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Mencermati ayat ini, terlihat jelas bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap muslim. Sebaliknya, bergaya hidup jahili adalah haram bagi setiap muslim. Meskipun demikian, dalam tataran empirik di tengah msyarakat, justru sebagian generasi muslim banyak yang menggandrungi gaya hidup jahili. Kondisi inilah yang menyedihkan. Tampaknya, kondisi ini persis seperti yang disitir oleh Rasulullah berikut ini:

“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Ada orang bertanya, Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi? Jawab Rasul: Siapa lagi kalau bukan mereka? (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah).

“Sesungguhnya kamu mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka. Kami bertanya, Ya, Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasul: Siapa lagi kalau bukan mereka? (HR. al-Bukhari dari Abu Said al-Khudri).

Dari gambaran yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad di atas, bahwa sebetulnya gaya hidup jahili telah menjadi fenomena alamiah, tidak hanya terjadi pada zaman dahulu, tetapi juga terasa sekarang ini. Kita kaum muslimin, harus menjauhkan gaya hidup jahili, karena konsekuensinya cukup besar. Sebaiknya gaya hidup mahasiswa harus kembali berpedoman Islam, sebab Islam menganjurkan kehidupan yang sederhana dan tidak bermegah-megahan.

 

sumber: http://www.voxindonesia.com/2016/04/gaya-hidup-mahasiswa.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *